Kamis, 28 Februari 2019

Novel

Prolog

Orang bilang, tak ada persahabatan yang murni antara laki-laki dan perempuan. Tapi benarkah itu? haruskah aku menyembunyikan rasa ini?



Devan



Part 1
“Bruggg”

Radhi yang baru dating langsung mengambil bantal, dan melemparnya pada Devan. Jam sudah menunjukan pukul tujuh pagi, tetapi Devan masih saja tertidur di kasurnya.

Radhi, dia sudah dianggap seperti anak sendiri oleh orang tua Devan. Radhi juga sudah tahu setiap sudut rumah ini.Jika dia datang, biasanya dia langsung mencari Devan, dan tempat pertama yang dia cek adalah kamar Devan.Apalagi jika masih pagi seperti sekarang, biasanya Devan masih berada di dalam kamarnya.

Devan membuka matanya pelan, dan melihat radhi di depannya.“ahhh, apaan sih lu? Ganggu aja” ujar Devan yang masih bermalas-malasan dikasur. Sebenarnya Radhi mengajak Devan untuk pergi hari ini.

“Bangun lu, KEBOOO…” ejek Radhi sambil menggoyang-goyangkan tubuh Devan.“Van, buatin gua puisi dong..gua mau bikin video buat gebetan gue” Radhi merayu pada Devan yang masih saja bermalas-malasan di kasur.

“ahh, cewe aja otak lo… pacar lo si Dinda itu lo kemanain?” balas Devan  yang sekarang dia sudah dalam posisi duduk di kasur.

“udah gua putusin” dia menjawab dengan santainya.Radhi memang seorang cowo yang jago banget ngebaperin cewek, bisa dibilang ia seorang playboy. Berbanding terbalik dengan Devan yang seolah bodo amat dengan yang namanya pacaran.

“gua masih ngantuukkk,,,” ujarDevan yang kembali menjatuhkan badannya kembali kekasur.

“van gitar baru lo?” Radhi mengambil gitar devan yang menggantung di tembok kemudian memainkannya, dia memang pandai memainkan gitar.

JRENG JRENGJRENG

Tiba – tiba Radhi memainkan gitar baru Devan dengan nada tak karuan, dengan maksud mengganggu Deva agar cepat bangun, tapi ternyata Devan masih saja cuek dengan hal itu.

Satu cara gagal, radhi selalu saja memiliki ide kritis untuk menjahili temannya. Kini dia mengambil segelas air yang ada di meja Devan disamping tempat tidurnya, lalu dia mencipratkan air nya pada wajah Devan beberapa kali agar dia terbangun.

            “ Ah.. Rese !!!”Ujar Devan sambil berjalan menuju kamar mandi.Radhi malah tertawa terbahak – bahak melihat ekspresi temannya itu.


Sementara “Terlalu pagi untuk hari ini

Terlalu pagi untuk jiwa sepi

Tak ada nafsu untuk menikmati secangkir kopi

Yang kunikmati hanyalah sebuah potret hitam putih mu, dalam bingkai biru



Aku ingin mengirim sebuah surat

Lewat sebuah alamat di saku kiri bajuku

Di dekat jantungku,

yang terus memanggilmu



Mungkin masih ada bekas senyum

Pada malam bisu di bawah redup rembulan

atau di bawah langit senja yang kemerahan”

(Akudan)

            “Ini puisinya Van? “ujar Radhi.

            “ iya “ Devan menjawab cuek, sambil memainkan laptopnya.

….

            “3… 2…. 1” Radhi meneriakan kata itu sambal menluncurkan bantal dengan cukup kuat dari tangannya pada Devan yang masih berbaring di kasur.Memang saat mendengar  sudah setengah terbangun.

BRUGG

“Hahaha” Radhi tertawa keras.

Hujaman bantal itu mengenai punggung Devan, saat itu juga Dia langsung bangkit dan membalas lemparan bantal dari Radhi, namun Radhi berhasil menghindar.Tetapi bantal yang tadi dilempar Devan malah mengenai kaki meja di dekat ranjang, hingga segelas air pun tergoyangkan dan hamper saja air nya tumpah.Mereka terdiam sejenak melihat kejadian itu, lalu tertawa bersama-sama.

“Haha, Hampir aja.” Ujar Devan sambil tertawa melihat ke jadian itu.

“Lagian Lo sih, kebiasaan.Baru muncul udah rese aja, sialan lo.”Lanjutnya, yang kini menyalahkan Radhi.

“Bodooo amaaattt…. Lo udah Shubuh belum? Jam tujuh gini baru bangun Lo.. “ ujar Radhi sambil mentertawai Devan.

“Udahlahh,,tapi tadi gue tidur lagi. Sekarangkan Sabtu, ini adalah saatnya balas dendam buat malam-malam gue sebelumnya yang dipenuhi tugas sekolah” jawab Devan sambilsedikit tertawa.

Devan adalah seorang anak bungsu di keluarganya, sedangkan Radhi adalah seorang anak sulung. Walaupun mereka lahir dari keluarga yang berbeda, tetapi mereka adalah sepasang sahabat yang klop sepert iadik & kakak.Walaupun sebenarnya umur Devan lebih tua lima bulan dari Radhi yang lahir pada bulan Agustus.

Terkadang,di mata Devan,Radhi menjadi sosok yang suka memerintah, egois, dan bertindak sekenannya.Berbanding terbalik dengan Devan, dia adalah tipe penurut, pengalah, dan sering kali tidak bisa  mempertahankan pendapatnya saat berdebat dengan Radhi.

“Van ada puisi baru gak?”

“Cek aja di laptop.”

“Ini gitar Lo?” ujar Radhi yang kini melihat gitar di samping meja,sambil menyalakan laptop milik Devan.

“iyaa,” Jawab Devan sambil berjalan keluar kamar mengarah ke kamar mandi.

…..


 Part 2 

Hari ini Devan dan Radhi di panggil oleh guru Bahasa Indonesia mereka, Ibu Shinta. Mereka disuruh dating keruang guru. Bu Shinta,Dia adalah salah satu guru yang sangat cerewet di sekolah ini, suaranya yang cempreng dengan nada tinggi menjadi cirri khasnya ketika berbicara di depan kelas. Alasannya melakukan hal tersebut, karena Dia tidak mau melihat muridnya mengantuk saat  jam pelajarannya, tapi itu malah membuatnya menjadi sosok yang menjadi agak di hindari murid ekaligus jadi bahan olokan murid-muridnya. Biasanya Dia memanggil murid-murid yang mempunyai masalah nilai Bahasa Indonesia atau bahkan yang pernah bolos tanpa keterangan di jam pelajarannya. Baginya pendidikan itu nomor satu.

Devan dan Radhi yang tidak tahu apa-apa,kini kebingungan. Mereka merasa tak mempunyai masalah apapun dengannya.Alasan mereka dipanggil masih menjadi tanda tanya di benak mereka.

“ Van kok gua merinding ya?”

“Ah lebay lo…. Gak bakalan kenapa-kenapa kok.Paling cumin telinga lo aja yang bakal ingusan ngedengerin omongannya.”Balas Devan sambil terkekeh pelan, mencairkan suasana di antara mereka.

Mereka semakin dekat dengan ruangan itu, tetapi langkah kaki semakin saja bertambah berat.

“Lo duluan gih" suruh Radhi padaDevan.Dengan langkah ragu, Devan berjalan paling depan. Tapi ternyata dugaan mereka salah, sesampainya mereka di ruang guru, Bu Iister nyata menyapa mereka dengan ramah.“Kalian sini, udah ibu tungguin darit adi” ucap bu shinta dengan nada yang pelan dan menyambut dengan ramah pada mereka.

Bu Shinta ternyata hanya ingin menyuruh mereka untuk mengikuti lomba musikalisasi puisi bulan depan. Ia tahu bahwa Devan pandai membaca dan membuat puisi dilihat dari tugas-tugasnya ketika kelas 10. Sedangkan kepiawaian Radhi bermain gitar, Bu Shinta mendapat informasi dari guru seni yang mengajar kelas mereka berdua.

“Cuman kita berdua doing bu?” Tanya Radhi, yang kini sudah agak santai.

“Engga kok, ibu juga nyuruh anak kelas 12 dia anak pindahan dan baru tiga minggu sekolah di sini, namanya itu…..” sambil berpikir keras, bu Shinta mencoba mengingat-ngingat. “aduhhh lupa lagi ibu namanya. Tapi katanya dia jago nyanyi sih, udah pernah dapet prestasi juga dari nyanyi. Jadi dia juga ibu tunjuk untuk menjadi vokalis dari tim kalian.” Sambungnya dengan berbicara sangat cepat, sampai hampir tak ada kata yang terputus saat mengucapnya.

Tak lama kemudian seorang siswi datang, Devan dan radhi sama sekali tak mengenalnya. “ohh iyaa, tuh dia anaknyaa.” Ujar bu Shinta.

“siang, bu. Ada keperluan apa yabu ?” ucap siswi itu menyapa bu Shinta.

“kamu ibu tunjuk untuk menjadi bagian dari tim musikalisasi puisi, untuk mewakili lomba dari sekolah kita. Apa kamu siap?” Tanya bu Sinta.

“tapikan saya gak bias baca puisi bu…” ucapa anak itu yang masih kebingungan.

“engga… jadi tugas kamu menjadi vokalis, Karena ibu lihat dari prestasi kamu di sekolah sebelumnya, jadi ibu pengen kamu ikutan lomba ini.”

“Dan Kamu Devan, ibu tunjuk kamu jadi pembaca puisinya. Puisinya juga harus kamu buat sendiri yaa.”

“siaappbu,” balas Devan yang kini tersenyum.

“Dan kamu Radhi, jadi pengiring mereka, kamu jadi pemain gitar” ucap Bu Shinta.

“Okee bu” jawab Radhi

….



Siangnya, setelah pulang sekolah mereka berkumpul di ruang seni, seperti yang telah bu shinta perintahkan.Saat Devan dan Radhi datang, ternyata Dilya sudah menunggu di sana, dia sedang memperhatikan beragam alat musik juga karya-karya seni rupa dari siswa sekolah tersebut.

“ Udah nunggu dari tadi ?” Tanya Devan pada Dilya sambil menyimpan tas di meja.

“engga kok, aku juga baru datang..” jawab Dilya sambil tersenyum.

“ehh.. sebelumnya kenalin dulu, gue Radhi” ucap Radhi sambil menyodorkan tangannya pada Dilya.

“Kenalin GueD evan”.Sambil melempar senyum ramah pada Dilya.

“Aku Dilya kak,”.Jawabnya yang masih agak canggung pada mereka.

“Manggil nama aja kali gausah pake kakak, kaya ke kaka kelas ajaa, haha” ujar Radhi menyangkal panggilan padanya dan Devan tadi.Dilya yang masih canggung hanya memberi respond sebuah senyum yang malu-malu.

“Sekarang kita mau mulai dari mana dulu?” Tanya Devan.

“Iyaa,,Gua gak bawa gitar.. gitar di sini pada aneh suaranya.” Ujar Radhi sambil terkekeh pelan.

“gua uga belum bikin puisinya kalii”. Tambah Devan.

“Temanya apa ya? Gua lupa gak nanyain ke Bu Shinta tadi.” lanjutnya.

“Tadi, Bu Shinta bilang ke aku temanya itu ‘Penyalah gunaan Wewenang Dan Jabatan’ sama ‘Pendidikan karakter bagi pelajar’.Dia bilang, cukup pilih salah satu aja buat di lombakan” ujar Dilya.

“okeelahh siyaapp.. nanti gue coba buat.”

“udahlahh sekarang mending kita pulang aja, lanjut besok lagi pulang sekolah” bujuk Radhi pada temannya.Hari itu mereka pulang, rasa malas seperti merasuki tubuh mereka, hanya saja mereka sangat risih jika harus dihadapkan dengan ucapan-ucapan Bu Sinta yang bias saja menyakiti gendang telinga mereka jika dia marah.

Radhi dan Devan berjalan menuju parkiran siswa bersamaan. Tapi Dilya berjalan kedepan sekolah untuk menunggu bis yang menuju ke arah rumahnya.

 “Duhh bis lama banget sih”Dilya mulai kesal Karena belum juga ada satu pun bis yang lewat.

Tak lama kemudian terdengar suara motor yang melaju dari arah belakangnya. “Dilya, lo belum pulang? Pulang bareng sama gue aja”ajak Devan dengan senyumnya. Dilya menurut saja karena hari itu sudah sangat sore, dan dari tadi juga tidak ada bis yang lewat kedepan sekolah.

“iya deh, aku nebeng yaa kak” jawab Dilya sambil memancarkan wajah gembira karena mendapat tebengan dari kenalan barunya, Devan. Salah satu murid yang kerap menjadi pembicaraan beberapa teman barunya di kelas.

Memang Devan tak se-populer Radhi yang berpenampilan menarik dan selalu trendy. Devan hanyalah seorang remaja yang selalu tampil sederhana di hari-harinya. Tetapi Devan mempunyai karakter yang menarik dan tentunya tak banyak gaya.

Tak sedikit anak perempuan yang berharap bias jadi pacarnya, mereka selalu mencari perhatian kepada Devan dengan cara apapun bila Devan lewat dihadapan mereka. Tetapi tak pernah sedikit pun Devan menggubris hal itu. Sikap Devan yang cuek dan ‘dingin’ pada anak perempuan seumurannya, membuat dia terlihat begitu misterius dan membuat penasaran di mata mereka.


 Part 3
Setelah selama ini mereka menjalani latihan bersama, kedekatan Dilya pada dua teman baru nya semakin akrab saja. Danpernah, Dilya sewotpada Devan, hanya karena  Devaniseng menyembunyikan pulpenyang selalu dibawa Dilya. Pulpen itu berwarna putih, berkepala Unicornyang memiliki tanduk belang  berwarna pink dan tosca.
Sebelumnya Dilya pernah sibuk kesana kemari mencari pulpen tersebut yang tidak ada di dalam kotak pensilnya, sampai ahirnya dia terus menggerutu kesal di ruang seni. Dan usut punya usut, ternyata  dia menyimpan pulpen nya di saku rok nya sendiri. Dilya yang sudah riweh dari tadi, saat itu juga  pipinya berubah menjadi kemerahan.Yang juga menyebabkan dia di tertawai oleh Devan dan Radhi.

Itulah yang menyebabkan Devan berpikiran untuk menyembunyikan pulpen tersebut.Pulpen itu mungkin punya makna tersendiri bagi Dilya. Gara-gara menyembunyikan pulpen  itu, Devan dicuekin sampai berhari-hari. Walaupun Devan sudah mengembalikannya, tapi mereka masih saja terlihat kaku. Dan Dilya masih cuekin Devan. Sampai ahirnya Radhi menyuruh Devan untuk minta maaf,dan ahirnya Devan pun mengikuti sarannya.

            “Maaf buat apa?” jawab Dilya sambil memalingkan wajah nya dengan agak cuek.

            “buat sesuatu, yang udah bikin lo cuekin gue selama tiga hari ini”

            “emang gue marah sama lo? Engga deh”

            “tapi kenapa lo diem terus ? kalo lo ga marah yaudah biasa aja.. senyum dong” rayu Devan pada Dilya, agar dia tidak merajuk lagi.

            “Iiiiih… buat apa senyum sama orang yang ngeselinn kaya lo”

            “tuhh kan, lo masih kesel sama gue”

            “biarin”

            “ya udah gimana caranya biar lo maafin gue?”

            “gue traktir lu makan,gimana ? mau gak?,” sambung Devan.

            “hmmm…ide baguss..kebetulan gue lagi pengen mie ayam nih?” jawab Dilya sambil memanfaatkan keadaan.

            “Siiaaapp..kapan? Di mana?”jawab Devan yang sama antusias nya.

            “pulang sekolah aja deh,”

            “okee. kalo gitu,gue ke kelas dulu yaa” Devan kemudian berjalan lagi dari koridor meninggalkan Dilya.

...

            Pelajaran matematika adalah pelajaran yang di bangga-banggakan di pagi hari ini, tak perlu di jelaskan pun kalian pasti tahu alasannya. Bu Idah, guru matematika yang super kalemitu  tidak masuk hari ini. Cara mengajarnya yang terlalu lemah lembut gemulai, dan kerap melantur ke masalah pribadinya itu, hanya selalu membuat muridnya mengantuk. Bahkan murid yang tidur pun, tidak dia gubris sama sekali. Menyedihkan memang, jika empat jam pelajaran harus bete, boring, dan dilema antara harus tidur karena di serang kantuk yang luar biasa atau kehilangan ilmu yang seharusnya di dapat, walaupun sebenarnya jika menerangkan pun sangat jarang yang dapat memahami penjelasannya. Dan sudah pasti, tanpa ada komando dari siapa pun, ruangan kelas berubah menjadi seperti pesta yang sangat meriah.

            Di pojok kanan belakang, ada gerombolan pemusik amatir yang sedang mengadakan konser dadakan. Terdengar dengan jelas suara  Jaka  yang menyanyi dengan nada tidak karuan, tetapi dengan ekspresi seperti penyanyi yang sedang di panggung ditambah sapu di tangan nya sebagai mic-nya ketika bernyanyi atau bisa juga menjadi gitar nya, itu semua tergantung lagu yang dimainkan, sapu itu akan berubah secara fleksibel sesuai apa yang ada di otak nya. Kelakuannya membuat anak-anak lain tak henti mentertawai nya.Apalagi jika dia sudah berlaga seperti Cakra Khan, niat nya mau menirukan ciri khas dengan suara berat dan serak, tapi hasilnya suaranya malah makin membuat telinga sakit saja.

            Ku menangis kau terdiam, ku berlari kau tersenyum

Ku berduka kau bahagia, ku ingin kau kembali..

Versinya berbanding terbalik seratus tujuh puluh delapan derajat dengan aslinya.Artinya, mungkin hanya sekitar dua persen saja kemiripannya.Nada, lirik, tempo, semuanya sudah sangat berantakan.Diibaratkan nyanyiannya itu bisa bikin kuntilanak jadi hilang kepercayaan dirinya buat cekikikan, bahkan mungkin bisa bikin pocong buka tali pocong di kakinya sendiri biar bisa lari lebih cepat dari biasanya.

Tapi itu semua sudah menjadi hiburan untuk teman-teman nya.Terkecuali bagi Dilya yang masih beradaptasi dengan anak-anak tersebut, awalnya dia hanya terdiam melihat tingkah yang super aneh tersebut.Walaupun dengan berat hati dia harus menerima kenyataannya sekarang, karena sebelumnya dia bersekolah di salah satu sekolah favorit yang isinya kebanyakan murid yang kalem.

            Disisi lain ada gerombolan anak penggemar berat anime, tak henti-hentinya mereka berbagi cerita setiap hari tentang film yang telah di tontonnya. Jika di perhatikan, mereka tak beda jauh dengan cewe-cewe penggemar drakor. Kelompok itu seperti kelompok yang terkucil, atau mungkin mereka yang memisahkan diri, mereka seperti susah bergaul dengan orang lain. Mungkin sebabnya karena penggemar anime selalu di identikan dengan anak cupu dan ketinggalan zaman, padahal sebenarnya tidak ada yang salah dengan hobi.Dan yang patut di tiru dari mereka adalah rasa solidaritasnya.Bayangkan saja Fian, Dika, Dafa, dan Riki, mereka seperti tak bisa di pisahkan.dari mulai tempat duduk yang berdekatan, jajan ke kantin, atau bahkan pergi ke toilet pun mereka selalu saja ber-empat.

                Sementara Dilya berada di barisan tengah bersama segerombolan anak perempuan yang sedang bergosip, dari mulai artis, tukang ojek, bahkan kucing liar yang beranak tanpa bapak pun jadi bahan obrolan mereka.Sampai ahirnya Ajengmengalihkan obrolan, dia mengajak teman-temannya untuk menemaninya membeli buku ke Gramedia sepulang sekolah. Dan diantara mereka, hanya Dilya saja yang berhalangan untuk ikut,  itu pun karena dia sudah janji dengan Devan untuk mampir ke warung mie ayam langganan nya sepulang sekolah.

                “Anjirr, yakin lo Dil? Lo di ajak jalan sama Devan??”Ujar Dina sambil menghadapkan wajahnya dengan wajah Dilya.

                “Jalan apaan sih. Orang cuman mau makan mie ayam doang, gak lebih”

                “Hahh ? Devan yang ganteng kalem unyu-unyu itu?Pengen banget gue nyubit pipi chubby nya itu.” sambung Aida.

                “Asal lo tahu Dil, banyak cewe yang suka sama dia. Tapi Devan gak nanggepin apa-apa. Dan lo, hebat banget lo.Udah tiap hari ketemu dia, dan sekarang dia ngajakin lo jalan?Kayaknya lo beruntung banget pindah sekolah ke sini.Kemarin kalo pulang, lo sering di anter Radhi. Dan sekarang Devan lo embat jugaa? Hebat lo, bagi bagi dong kalo punya gebetan..”Sambung Wiwin sambil nyerocos dengan cepat.Suasana kelas kini semakin bertambah riuh karena obrolan receh mereka.

                “OMG. Dill, gue gak lagi mimpi kan?” sambung Ajeng sambil mencubit tangan Dilya. “Sakit gak?”Lanjutnya.Dilya langsung menepisnyakarena terasa sakit.

“Kok bisa Dil?” lanjut Ajeng yang masih saja penasaran dengan berita itu.

“Udahlahh..kenapa jadi panjang lebar gini sih?” Tukas Dilya.“lagian gue tuh gak suka dia, gue lagi sebel sama dia kali” lanjutnya.

“Sebell? Emang lo diapain sama Devan?” Ujar Aida.

“abis nya dia rese sama gue, ya udah gue cuekin aja… sampe ahirnya dia ngerasa bersalah, dan nawarin traktir gue makan” terang Dilya pada mereka.

“elo tuh ya Dill, kufur nikmat banget sih. Devan segitu ganteng nya lo cuekin.” sambung Dina.

“Tapi modus lo ke cowok kaya dia, patut gue tiru. Gue acungin lima jempol buat lo pokoknya.” Balas Ajeng.

“Ajenggg, gue gak modus kalii.”Dilya menyangkal perkataan Ajeng sambil teriak.

“Dill, asal lo tau ya, dulu pas kelas sepuluh Ajeng itu sering caper kalo ada Devan.Tapi Devan nya, ngelirik sedikit pun enggak.”Ujar Wiwin sambil meledek Ajeng.

“huhu, iyaa sedih banget tau. Kisah cinta gue serumit itu.”Balas ajeng.

“Rumit??Cinta lo mentok kali, bukan rumit.Haha” celetuk Dina sambil tertawa terbahak-bahak.

“tuh kan.. ini tuh cuman kalian aja yang suka Devan. Gue nggak, bagi gue Devan cuman cowo ngeselin.” Ujar Dilya.

“ya udahh.. kalo lo gak mau,ya gapapa, buat simpenan gue aja. Kalo gue lagi bete sama Rafi, baru gue hubungin dia deh” ujar Ajeng sambil terkekeh.

“ihhh.. ngarep banget sih lo.” balas Aida.

“biarin lahh” jawab Ajeng.

“ehh ke kantin aja yuk, gue lapar nih,” ujar Dina.

“Ayoo gue juga pengen makan nih.” Jawab Ajeng yang memang selalu antusias jika mendengar pembahasan tentang ‘makan’.

…..

                “nahhituu, di belokan depan, sebelah kiri jalan”

                Devan langsung mengarahkan motor nya ke tempat yang di tujukan oleh Dilya. Tempat nya tidak asing bagi Devan, karena dia selalu melewati jalan ini. Hanya saja dia baru tahu bahwa ada warung mieayam yang enak di sana.

                “Emang di sini enak?” ujar Devan meyakinkan Dilya.

                “Udah gak usah banyak tanya, buruan..”

                “asal lo tau Van, ini tuh mie ayam favourite gue.

                “emang?” mereka melanjutkan pembicaraan sambil berjalan masuk.

                “Iyaa, pokokny-”

                “emangsiapa yang nanya..? hahaha” ujar Devan yang sengaja memotong pembicaraan Dilya.

                “Tuh kan, lo ngeselin mulu.”

                “Haha..iya iya maaf,, ya udah pesenin punyaa gue sekalian”ujar Devan.

Tempat ini memang hanya sebuah warung mie ayam sederhana, ukuran nya pun sangat kecil paling hanya bisa masuk sekitar delapan orang dewasa.Tapi, karena rasanya yang enak, juga pelayanan nya yang ramah, Dilya ahirnya menjadikan mie ayam di sini sebagai makanan favoritnya.

                “Bang mie ayam nya dua yaa, “ ucap Dilya memesan mie ayam tersebut.

                “eh,,  ada si neng.. ini pacarnya ya neng?” ujar abang mie ayam sambil mengarahkan matanya pada Devan.

                “engga, bukan Bang masa saya pacaran sama orang ginian sih” ujar Dilya menyangkal sambil memandang jijik kearah Devan,sedangkan Devan hanya tertawa geli mendengar perkataan Abang mie ayam tadi.

                “emang gue mau pacaran sama lo? ogahh” tambah Devan menyangkal.



Part 4

Dilya, udah berangkat belum. Kalo belum bareng gue berangkatnya.

Belum, boleh…  aku tunggu ya

Tak menunggu lama dilya kembali mendapat pesan singkat.

Udah di depan ni

Tanpa membalas pesan tersebut. Dilya langsung berpamitan pergi ke ibunya. Dan langsung pergi ke luar.

“cepetan, tar kesiangan lagii”

“Dil, sebenernya kalo gue bonceng. Ada yang marah nggak?” tanya Radhi setelah dia naik.

“maksudnya?”

“yaa.. maksud gue lo udah ada yang punya belum?”

“maksud kamu pacar?”

“Engga lah, aku gak punya pacar.” Jawaban itu ternyata membuat radhi senyum-senyum sendiri. Senyumnya juga terlihat di spion motornya yang dilihat dilya “Kenapa? Kok senyum-senyum sendiri?”

Sambil cengengesan dia menjawab “gapapa kok, lagi pengen senyum aja”

….

Dilya memang kerap jadi bahan kejahilan Radhi dan Devan. Hampir setiap hari Dilya di jahili oleh mereka berdua. Termasuk juga saat kejadian di sembunyikannya pulpen kesayangan Dilya itu, tapi kejadian itu tidak membuat mereka berhenti. Mereka masih saja tetap sering menjahilinya.

                Kini Radhi kerap menjadi supir pribadi Dilya, alias dia sering mengantar jemputnya ke sekolah. rutinitas baru tersebut juga diketahui oleh Aida dan Dina.  Mereka pernah memergoki Dilya dan Radhi saat di perjalanan menuju sekolah. kabar tersebutpun menjadi celotehan hangat di hari itu.

                “Cieee, senyum terus nihh” ujar Dina. “iya Din, kan abis di anter sama gebetan barunya” tambah Aida. Sambil matanya mengarah pada Dilya.

                “Ooo…Radhi, yang mereka maksud itu Radhi”Ucapnya dalam hati.

                “Oh, iya. Yang tadi pagi nunggu di depan rumahnya pas kita lewat ya?” Sindir Dina.

                “Jangan-jangan yang juga gue lihat kemaren sore?” tambah Ajeng.

                “Ihhh.. kalian tuh kenapa sih, sindir-sindir mulu.“ jawab Dilya sambil cemberut.

                 “lagian lo sih, bikin gue ngiri ajaa… kemaren Devan, Sekarang Rad-“ ucap Aida.

                “KAN KITA BERTIGA ITU TEMENANN, AIDAAA..” ujar Dilya.

                “kalian tuh nyinyir banget sih kaya akun gosip IG” lanjutnya.

                “Haha, lo tuh kaya yang gak tau kita aja sih… kan kita geng nyinyir di kelas ini,” tambah Ajeng.

                “Cukup kalian aja ya, jangan ajak gue” ucap Dilya.

                “Tapi kan lo juga sering dengerin gosipan kitaa” Jawab Ajeng.

                “Mulai sekarang engga” jawab Dilya merajuk.

                “BRAKKKKK” Jaka menggebrak meja Dilya yang sedang di kerubungi sahabat – sahabat barunya itu, mereka semua kaget tak terkecuali Ajeng yang sampai terhentak kaget karenanya.

                Dengan spontan sambil tertawa keras Jaka Mengolok “MUKA KAGET LO SEMUA BIKIN GUE NGAKAKK, OHAHAHA”

                “Iiiiiiiih… JAKAAAAA. Rese banget sih lo!.” Ucap Ajeng sambil meneriaki dia.

….

                                Akhir pekan ini Radhi menginap di rumah Devan. Seperti biasa, karena ayahnya sedang di tugaskan ke luar kota untuk memantau proyek perusahaannya, ibu dan adiknya pun ikut bersama ayahnya. Radhi hanya ditemani pembantunya, Bi Ijoh dan Mang Parman, tukang kebunnya di rumah, mereka adalah sepasang suami istri tua, yang hingga kini belum juga di karuniai seorang anak. Menjadi pengasuh Radhi sejak kecil membuat Bi ijoh sangat bahagia.

 Radhi si anak sulung itu, sering  merasa boring jika di rumah saja, dia sering menginap di rumah Devan. Dengan begitu rasa sepinya sedikit terobati, walaupun hanya bermain video game, main gitar, atau hanya sekadar numpang tidur saja. Rumah Devan sebenarnya lebih sederhana dibanding rumah megah miliknya, tidak ada pembantu, tidak ada ‘AC’, tidak ada mesin cuci. Tapi di balik kesederhanaan tersebut, Radhi menemukan keharmonisan dari sebuah keluarga, perhatian sederhana yang membuatnya bahagia. Terkadang Radhi cemburu melihat keluarga itu.

                Orang tua Devan sudah menganggap Radhi juga bagian dari keluarga mereka, mereka juga tahu latar belakang kehidupan Radhi. Namun tidak dengan keluarga Radhi yang tidak mengenal sama sekali sahabat anaknya tersebut. Hari – harinya selalu diisi kesibukan – kesibukan yang tak berujung demi harta.

                Malam itu, mereka membuat video untuk di upload di akun instagram milik mereka. Mereka membuat cover sebuah lagu.Devan yang menyanyikan lagunya sedangkan Radhi yang memainkan gitar. Devan memiliki suara yang bagus, walaupun dengan tekhnik vokal yang sederhana, tapi caranya bernyanyi mampu menyampaikan pesan dari lagu-lagu yang dia nyanyikan.

                Devan sangat suka sekali seni, dari mulai menggambar, melukis, menulis, membuat puisi,  membaca puisi sampai musik, semuanya Dia suka. Dia memiliki keahlian di bidang bidang tersebut, walaupun tidak ada salah satu hobi yang lebih mendominasi dalam dirinya, dia mempelajarinya sedikit demi sedikit, tergantung mood-nya saat itu lebih condong ke arah mana. Dia juga pernah mengikuti lomba dari bidang - bidang tersebut, dan dia berhasil membuktikan bahwa dirinya bisa bersaing dengan dunia luar, walaupun hampir semua bakatnya dia pelajari secara otodidak. Buktinya, saa masih SMP dia pernah bersaing dalam lomba melukis di tingkat nasional dalam lomba seni yang secara resmi diselenggarakan oleh dinas pendidikan. Dia juga pernah menjuarai lomba vokal antar sekolah menengah atas di kota kecil tempatnya tinggal. Dan beberapa karya kepenulisannya, seperti cerpen dan puisinya juga sudah dibukukan lewat beberapa event tingkat nasional yang diadakan secara online oleh beberapa penerbit buku.

                Radhi, yang sejak tadi memainkan gitar kini malah memainkan nya sambil melamun, tapi dari mimik wajahnya dia tidak sedang memikirkan suatu masalah yang membebaninya. Karena lamunannya juga sedikit dihiasi senyuman kecil dari bibirnya.

                “Ehhh kenapa lo senyum-senyum sendiri.”

                sambil berusaha menutupi kebenaran tersebut, “Emang gue senyum-senyum?”

                “Kenapa sih lo?”

                “Gue gapapa”

                “Ohh gapapa? Yakin kan gapapa? Soalnya tingkah lu kaya orang gila, ”

                “Sialan lo.”

                “Abisnya, lo aneh banget sih.”

                “Biarin, yang aneh kan gue bukan lo”

                “Alahh.. Palingan lo abis nge-gebet cewe baru kan?”

                “Tau aja lo, Van.”

                Radhi, bisa dikatakan dia adalah penggila wanita. Dia tak pernah berhenti mengejar anak gadis yang disukainya, sampai dapat. Dia sangat sulit sekali masuk dalam keadaan menyerah, atau mengalah. Dalam kondisi apapun tekadnya tetap kuat.

                Tapi tidak seperti biasanya, dia tidak memberitahu pada Devan tentang gadis yang disukainya. karena biasanya, dia selalu menyombongkan gebetan-gebetannya pada Devan.




tunggu kelanjutannya ya, tolong bantu komen,kritik dan sarannya teman teman:) terimakasih:)