Prolog
Orang bilang, tak ada persahabatan yang murni antara laki-laki dan perempuan. Tapi benarkah itu? haruskah aku menyembunyikan rasa ini?
Devan
Part 1
“Bruggg”
Radhi yang
baru dating langsung mengambil bantal,
dan melemparnya pada Devan.
Jam sudah menunjukan pukul tujuh pagi, tetapi Devan masih saja tertidur
di kasurnya.
Radhi, dia sudah dianggap seperti anak sendiri oleh
orang tua Devan. Radhi juga sudah tahu setiap sudut rumah ini.Jika dia datang,
biasanya dia langsung mencari Devan,
dan tempat pertama yang
dia cek adalah kamar Devan.Apalagi jika masih pagi seperti sekarang,
biasanya Devan masih berada
di dalam kamarnya.
Devan membuka matanya pelan,
dan melihat radhi di
depannya.“ahhh, apaan sih lu?
Ganggu aja” ujar Devan yang masih bermalas-malasan dikasur. Sebenarnya Radhi mengajak Devan untuk pergi hari ini.
“Bangun lu, KEBOOO…”
ejek Radhi sambil menggoyang-goyangkan tubuh Devan.“Van,
buatin gua puisi
dong..gua mau bikin
video buat gebetan gue”
Radhi merayu pada Devan
yang masih saja bermalas-malasan
di kasur.
“ahh, cewe aja otak lo… pacar lo si Dinda itu
lo kemanain?” balas Devan yang sekarang dia sudah dalam posisi duduk
di kasur.
“udah gua putusin”
dia menjawab dengan santainya.Radhi memang seorang cowo
yang jago banget ngebaperin cewek,
bisa dibilang ia seorang
playboy. Berbanding terbalik dengan Devan
yang seolah bodo amat dengan
yang namanya pacaran.
“gua masih ngantuukkk,,,”
ujarDevan yang kembali menjatuhkan badannya kembali kekasur.
“van gitar baru
lo?” Radhi mengambil gitar devan
yang menggantung di tembok kemudian memainkannya,
dia memang pandai memainkan gitar.
JRENG JRENGJRENG
Tiba – tiba Radhi memainkan gitar baru Devan dengan
nada tak karuan, dengan maksud mengganggu Deva agar
cepat bangun,
tapi ternyata Devan masih saja cuek dengan hal itu.
Satu cara gagal,
radhi selalu saja memiliki
ide kritis untuk menjahili temannya.
Kini dia mengambil segelas
air yang ada di meja Devan disamping tempat tidurnya,
lalu dia mencipratkan
air nya pada wajah Devan beberapa
kali agar dia terbangun.
“ Ah.. Rese !!!”Ujar Devan sambil berjalan menuju kamar mandi.Radhi malah tertawa terbahak
– bahak melihat ekspresi temannya itu.
…
Sementara “Terlalu pagi untuk hari ini
Terlalu pagi untuk jiwa sepi
Tak ada nafsu untuk menikmati secangkir
kopi
Yang kunikmati hanyalah sebuah potret hitam putih mu, dalam bingkai biru
Aku ingin mengirim sebuah surat
Lewat sebuah alamat di saku kiri bajuku
Di dekat jantungku,
yang terus memanggilmu
Mungkin masih ada bekas senyum
Pada malam bisu di bawah redup rembulan
atau di bawah langit senja
yang kemerahan”
(Akudan)
“Ini puisinya
Van? “ujar Radhi.
“ iya “ Devan menjawab cuek,
sambil memainkan laptopnya.
….
“3… 2…. 1” Radhi meneriakan kata itu sambal menluncurkan bantal dengan cukup kuat dari tangannya pada Devan yang
masih berbaring di kasur.Memang saat mendengar sudah setengah terbangun.
BRUGG
“Hahaha” Radhi tertawa keras.
Hujaman bantal itu mengenai punggung Devan, saat itu juga Dia langsung bangkit dan membalas lemparan bantal dari Radhi, namun Radhi berhasil menghindar.Tetapi bantal yang tadi dilempar Devan malah mengenai kaki meja di
dekat ranjang, hingga segelas air pun tergoyangkan dan hamper saja air nya tumpah.Mereka terdiam sejenak melihat kejadian itu, lalu tertawa bersama-sama.
“Haha, Hampir aja.” Ujar Devan sambil tertawa melihat ke jadian itu.
“Lagian Lo sih, kebiasaan.Baru muncul udah rese aja,
sialan lo.”Lanjutnya, yang kini menyalahkan Radhi.
“Bodooo amaaattt…. Lo udah Shubuh belum? Jam tujuh gini baru bangun Lo.. “
ujar Radhi sambil mentertawai Devan.
“Udahlahh,,tapi tadi gue tidur lagi. Sekarangkan Sabtu, ini adalah saatnya balas dendam buat malam-malam gue sebelumnya
yang dipenuhi tugas sekolah” jawab Devan sambilsedikit tertawa.
Devan adalah seorang anak bungsu di keluarganya, sedangkan Radhi adalah seorang anak sulung.
Walaupun mereka lahir dari keluarga yang berbeda, tetapi mereka adalah sepasang sahabat yang klop sepert iadik & kakak.Walaupun sebenarnya umur Devan lebih tua lima bulan dari Radhi yang
lahir pada bulan Agustus.
Terkadang,di mata Devan,Radhi menjadi sosok yang
suka memerintah, egois, dan bertindak sekenannya.Berbanding terbalik dengan Devan, dia adalah tipe penurut,
pengalah, dan sering kali tidak bisa mempertahankan pendapatnya saat berdebat dengan Radhi.
“Van ada puisi baru gak?”
“Cek aja di laptop.”
“Ini gitar Lo?” ujar Radhi yang kini melihat gitar di samping meja,sambil menyalakan
laptop milik Devan.
“iyaa,” Jawab Devan sambil berjalan keluar kamar mengarah ke kamar mandi.
…..
Part 2
Hari ini Devan dan Radhi di
panggil oleh guru Bahasa Indonesia mereka, Ibu Shinta. Mereka disuruh dating keruang guru.
Bu Shinta,Dia adalah salah satu guru yang sangat cerewet di sekolah ini, suaranya yang
cempreng dengan nada tinggi menjadi cirri khasnya ketika berbicara di depan kelas. Alasannya melakukan hal tersebut, karena Dia tidak mau melihat muridnya mengantuk saat jam pelajarannya, tapi itu malah membuatnya menjadi sosok yang
menjadi agak di hindari murid ekaligus jadi bahan olokan murid-muridnya. Biasanya Dia memanggil murid-murid
yang mempunyai masalah nilai Bahasa Indonesia atau bahkan yang pernah bolos tanpa keterangan di jam pelajarannya. Baginya pendidikan itu nomor satu.
Devan dan Radhi yang tidak tahu apa-apa,kini kebingungan. Mereka merasa tak mempunyai masalah apapun dengannya.Alasan mereka dipanggil masih menjadi tanda tanya di benak mereka.
“ Van kok gua merinding ya?”
“Ah lebay lo…. Gak bakalan kenapa-kenapa kok.Paling cumin telinga lo aja
yang bakal ingusan ngedengerin omongannya.”Balas Devan sambil terkekeh pelan,
mencairkan suasana di antara mereka.
Mereka semakin dekat dengan ruangan itu, tetapi langkah kaki
semakin saja bertambah berat.
“Lo duluan gih"
suruh Radhi padaDevan.Dengan langkah ragu, Devan berjalan paling depan. Tapi ternyata dugaan mereka salah,
sesampainya mereka di ruang guru, Bu Iister nyata menyapa mereka dengan ramah.“Kalian sini, udah ibu tungguin darit adi” ucap bu shinta dengan nada
yang pelan dan menyambut dengan ramah pada mereka.
Bu Shinta ternyata hanya ingin menyuruh mereka untuk mengikuti lomba musikalisasi puisi bulan depan. Ia tahu bahwa Devan pandai membaca dan membuat puisi dilihat dari tugas-tugasnya ketika kelas 10.
Sedangkan kepiawaian Radhi bermain gitar, Bu Shinta mendapat informasi dari guru seni yang mengajar kelas mereka berdua.
“Cuman kita berdua doing bu?” Tanya Radhi, yang
kini sudah agak santai.
“Engga kok, ibu juga nyuruh anak kelas 12 dia anak pindahan dan baru tiga minggu sekolah di
sini, namanya itu…..” sambil berpikir keras, bu Shinta mencoba mengingat-ngingat. “aduhhh lupa lagi ibu namanya. Tapi katanya dia jago nyanyi sih, udah pernah dapet prestasi juga dari nyanyi. Jadi dia juga ibu tunjuk untuk menjadi vokalis dari tim kalian.”
Sambungnya dengan berbicara sangat cepat, sampai hampir tak ada kata yang terputus saat mengucapnya.
Tak lama
kemudian seorang siswi datang, Devan dan radhi sama sekali tak mengenalnya. “ohh iyaa, tuh dia anaknyaa.” Ujar bu Shinta.
“siang, bu. Ada
keperluan apa yabu ?” ucap siswi itu menyapa bu Shinta.
“kamu ibu tunjuk untuk menjadi bagian dari tim musikalisasi puisi, untuk mewakili lomba dari sekolah kita. Apa kamu siap?” Tanya bu Sinta.
“tapikan saya gak bias baca puisi bu…” ucapa anak itu yang masih kebingungan.
“engga… jadi tugas kamu menjadi vokalis,
Karena ibu lihat dari prestasi kamu di sekolah sebelumnya, jadi ibu pengen kamu ikutan lomba ini.”
“Dan Kamu Devan, ibu tunjuk kamu jadi pembaca puisinya.
Puisinya juga harus kamu buat sendiri yaa.”
“siaappbu,”
balas Devan yang kini tersenyum.
“Dan kamu Radhi, jadi pengiring mereka, kamu jadi pemain gitar” ucap Bu
Shinta.
“Okee bu” jawab Radhi
….
Siangnya, setelah pulang sekolah mereka berkumpul di
ruang seni, seperti yang telah bu shinta perintahkan.Saat Devan dan Radhi datang,
ternyata Dilya sudah menunggu di sana, dia sedang memperhatikan beragam alat musik juga karya-karya seni rupa dari siswa sekolah tersebut.
“ Udah nunggu dari tadi ?” Tanya
Devan pada Dilya sambil menyimpan tas di meja.
“engga kok, aku juga baru datang..”
jawab Dilya sambil tersenyum.
“ehh..
sebelumnya kenalin dulu, gue Radhi” ucap Radhi sambil menyodorkan tangannya pada Dilya.
“Kenalin GueD evan”.Sambil melempar senyum ramah pada Dilya.
“Aku Dilya kak,”.Jawabnya
yang masih agak canggung pada mereka.
“Manggil nama aja kali
gausah pake kakak, kaya ke kaka kelas ajaa, haha” ujar Radhi menyangkal panggilan padanya dan Devan tadi.Dilya
yang masih canggung hanya memberi respond sebuah senyum yang malu-malu.
“Sekarang kita mau mulai dari mana dulu?” Tanya
Devan.
“Iyaa,,Gua gak bawa gitar.. gitar
di sini pada aneh suaranya.” Ujar Radhi sambil terkekeh pelan.
“gua uga belum bikin puisinya kalii”. Tambah Devan.
“Temanya apa ya? Gua lupa gak nanyain ke Bu Shinta tadi.” lanjutnya.
“Tadi, Bu Shinta bilang ke aku temanya itu ‘Penyalah gunaan Wewenang Dan
Jabatan’ sama ‘Pendidikan karakter bagi pelajar’.Dia bilang, cukup pilih salah satu aja buat di
lombakan” ujar Dilya.
“okeelahh siyaapp..
nanti gue coba buat.”
“udahlahh sekarang
mending kita pulang aja, lanjut besok lagi pulang sekolah” bujuk Radhi pada temannya.Hari itu mereka pulang, rasa malas seperti merasuki tubuh mereka, hanya saja mereka sangat risih jika harus dihadapkan dengan ucapan-ucapan
Bu Sinta yang bias saja menyakiti gendang telinga mereka jika dia marah.
Radhi dan Devan berjalan menuju parkiran siswa bersamaan. Tapi Dilya berjalan kedepan sekolah untuk menunggu bis yang
menuju ke arah rumahnya.
“Duhh bis lama banget sih”Dilya mulai kesal Karena belum juga ada satu pun bis yang lewat.
Tak lama
kemudian terdengar suara motor yang melaju dari arah belakangnya. “Dilya, lo belum pulang? Pulang bareng sama gue aja”ajak Devan dengan senyumnya. Dilya menurut saja karena hari itu sudah sangat sore,
dan dari tadi juga tidak ada bis yang lewat kedepan sekolah.
“iya deh, aku nebeng yaa kak” jawab Dilya sambil memancarkan wajah gembira karena mendapat tebengan dari kenalan barunya,
Devan. Salah satu murid yang kerap menjadi pembicaraan beberapa teman barunya di
kelas.
Memang Devan tak se-populer Radhi yang berpenampilan menarik dan selalu trendy. Devan hanyalah seorang remaja yang selalu tampil sederhana di hari-harinya. Tetapi Devan mempunyai karakter yang
menarik dan tentunya tak banyak gaya.
Tak sedikit anak perempuan yang
berharap bias jadi pacarnya, mereka selalu mencari perhatian kepada Devan dengan cara apapun bila Devan lewat dihadapan mereka. Tetapi tak pernah sedikit pun
Devan menggubris hal itu. Sikap Devan yang cuek dan ‘dingin’ pada anak perempuan seumurannya,
membuat dia terlihat begitu misterius dan membuat penasaran di mata mereka.
Part 3
Setelah
selama ini mereka menjalani latihan bersama, kedekatan Dilya pada dua teman
baru nya semakin akrab saja. Danpernah, Dilya sewotpada Devan, hanya
karena Devaniseng menyembunyikan pulpenyang
selalu dibawa Dilya. Pulpen itu berwarna putih, berkepala Unicornyang
memiliki tanduk belang berwarna pink dan tosca.
Sebelumnya Dilya pernah sibuk
kesana kemari mencari pulpen tersebut yang tidak ada di dalam kotak pensilnya,
sampai ahirnya dia terus menggerutu kesal di ruang seni. Dan usut punya usut,
ternyata dia menyimpan pulpen nya di
saku rok nya sendiri. Dilya yang sudah riweh dari tadi, saat itu juga pipinya berubah menjadi kemerahan.Yang juga
menyebabkan dia di tertawai oleh Devan dan Radhi.
Itulah yang menyebabkan Devan
berpikiran untuk menyembunyikan pulpen tersebut.Pulpen itu mungkin punya makna
tersendiri bagi Dilya. Gara-gara
menyembunyikan pulpen itu, Devan
dicuekin sampai berhari-hari. Walaupun
Devan sudah mengembalikannya, tapi mereka masih saja terlihat kaku. Dan Dilya masih cuekin
Devan. Sampai
ahirnya Radhi menyuruh Devan untuk minta maaf,dan ahirnya Devan pun mengikuti
sarannya.
“Maaf buat apa?” jawab Dilya sambil
memalingkan wajah nya dengan agak cuek.
“buat sesuatu, yang udah bikin lo
cuekin gue selama tiga hari ini”
“emang gue marah sama lo? Engga deh”
“tapi kenapa lo diem terus ? kalo lo
ga marah yaudah biasa aja.. senyum dong” rayu Devan pada Dilya, agar dia tidak
merajuk lagi.
“Iiiiih… buat apa senyum sama orang
yang ngeselinn kaya lo”
“tuhh kan, lo masih kesel sama gue”
“biarin”
“ya udah gimana caranya biar lo
maafin gue?”
“gue traktir lu makan,gimana ? mau
gak?,” sambung Devan.
“hmmm…ide baguss..kebetulan gue lagi
pengen mie ayam nih?” jawab Dilya sambil memanfaatkan keadaan.
“Siiaaapp..kapan? Di mana?”jawab Devan
yang sama antusias nya.
“pulang sekolah aja deh,”
“okee. kalo gitu,gue ke kelas dulu
yaa” Devan kemudian berjalan lagi dari koridor meninggalkan Dilya.
...
Pelajaran matematika adalah
pelajaran yang di bangga-banggakan di pagi hari ini, tak perlu di jelaskan pun
kalian pasti tahu alasannya. Bu Idah, guru matematika yang super kalemitu tidak masuk hari ini. Cara mengajarnya yang
terlalu lemah lembut gemulai, dan kerap melantur ke masalah pribadinya itu,
hanya selalu membuat muridnya mengantuk. Bahkan murid yang tidur pun, tidak dia
gubris sama sekali. Menyedihkan memang, jika empat jam pelajaran harus bete,
boring, dan dilema antara harus tidur karena di serang kantuk yang luar biasa
atau kehilangan ilmu yang seharusnya di dapat, walaupun sebenarnya jika
menerangkan pun sangat jarang yang dapat memahami penjelasannya. Dan sudah
pasti, tanpa ada komando dari siapa pun, ruangan kelas berubah menjadi seperti
pesta yang sangat meriah.
Di pojok kanan belakang, ada
gerombolan pemusik amatir yang sedang mengadakan konser dadakan. Terdengar
dengan jelas suara Jaka yang menyanyi dengan nada tidak karuan,
tetapi dengan ekspresi seperti penyanyi yang sedang di panggung ditambah sapu di
tangan nya sebagai mic-nya ketika bernyanyi atau bisa juga menjadi gitar
nya, itu semua tergantung lagu yang dimainkan, sapu itu akan berubah secara
fleksibel sesuai apa yang ada di otak nya. Kelakuannya membuat anak-anak lain tak
henti mentertawai nya.Apalagi jika dia sudah berlaga seperti Cakra Khan, niat
nya mau menirukan ciri khas dengan suara berat dan serak, tapi hasilnya
suaranya malah makin membuat telinga sakit saja.
…Ku menangis kau terdiam, ku
berlari kau tersenyum
Ku berduka kau bahagia, ku ingin
kau kembali..
Versinya berbanding terbalik
seratus tujuh puluh delapan derajat dengan aslinya.Artinya, mungkin hanya
sekitar dua persen saja kemiripannya.Nada, lirik, tempo, semuanya sudah sangat
berantakan.Diibaratkan nyanyiannya itu bisa bikin kuntilanak jadi hilang kepercayaan
dirinya buat cekikikan, bahkan mungkin bisa bikin pocong buka tali pocong di
kakinya sendiri biar bisa lari lebih cepat dari biasanya.
Tapi itu semua sudah menjadi
hiburan untuk teman-teman nya.Terkecuali bagi Dilya yang masih beradaptasi
dengan anak-anak tersebut, awalnya dia hanya terdiam melihat tingkah yang super
aneh tersebut.Walaupun dengan berat hati dia harus menerima kenyataannya
sekarang, karena sebelumnya dia bersekolah di salah satu sekolah favorit yang
isinya kebanyakan murid yang kalem.
Disisi lain ada gerombolan anak
penggemar berat anime, tak henti-hentinya mereka berbagi cerita setiap hari
tentang film yang telah di tontonnya. Jika di perhatikan, mereka tak beda jauh
dengan cewe-cewe penggemar drakor. Kelompok itu seperti kelompok yang terkucil,
atau mungkin mereka yang memisahkan diri, mereka seperti susah bergaul dengan
orang lain. Mungkin sebabnya karena penggemar anime selalu di identikan dengan
anak cupu dan ketinggalan zaman, padahal sebenarnya tidak ada yang salah dengan
hobi.Dan yang patut di tiru dari mereka adalah rasa solidaritasnya.Bayangkan
saja Fian, Dika, Dafa, dan Riki, mereka seperti tak bisa di pisahkan.dari mulai
tempat duduk yang berdekatan, jajan ke kantin, atau bahkan pergi ke toilet pun
mereka selalu saja ber-empat.
Sementara
Dilya berada di barisan tengah bersama segerombolan anak perempuan yang sedang
bergosip, dari mulai artis, tukang ojek, bahkan kucing liar yang beranak tanpa
bapak pun jadi bahan obrolan mereka.Sampai ahirnya Ajengmengalihkan obrolan,
dia mengajak teman-temannya untuk menemaninya membeli buku ke Gramedia sepulang
sekolah. Dan diantara mereka, hanya Dilya saja yang berhalangan untuk ikut, itu pun karena dia sudah janji dengan Devan
untuk mampir ke warung mie ayam langganan nya sepulang sekolah.
“Anjirr,
yakin lo Dil? Lo di ajak jalan sama Devan??”Ujar Dina sambil menghadapkan
wajahnya dengan wajah Dilya.
“Jalan
apaan sih. Orang cuman mau makan mie ayam doang, gak lebih”
“Hahh
? Devan yang ganteng kalem unyu-unyu itu?Pengen banget gue nyubit pipi chubby
nya itu.” sambung Aida.
“Asal
lo tahu Dil, banyak cewe yang suka sama dia. Tapi Devan gak nanggepin apa-apa.
Dan lo, hebat banget lo.Udah tiap hari ketemu dia, dan sekarang dia ngajakin lo
jalan?Kayaknya lo beruntung banget pindah sekolah ke sini.Kemarin kalo pulang,
lo sering di anter Radhi. Dan sekarang Devan lo embat jugaa? Hebat lo, bagi
bagi dong kalo punya gebetan..”Sambung Wiwin sambil nyerocos dengan
cepat.Suasana kelas kini semakin bertambah riuh karena obrolan receh mereka.
“OMG.
Dill, gue gak lagi mimpi kan?” sambung Ajeng sambil mencubit tangan Dilya. “Sakit
gak?”Lanjutnya.Dilya langsung menepisnyakarena terasa sakit.
“Kok bisa Dil?” lanjut Ajeng yang masih
saja penasaran dengan berita itu.
“Udahlahh..kenapa jadi panjang lebar gini
sih?” Tukas Dilya.“lagian gue tuh gak suka dia, gue lagi sebel sama dia kali”
lanjutnya.
“Sebell? Emang lo diapain sama Devan?” Ujar
Aida.
“abis nya dia rese sama gue, ya udah gue
cuekin aja… sampe ahirnya dia ngerasa bersalah, dan nawarin traktir gue makan”
terang Dilya pada mereka.
“elo tuh ya Dill, kufur nikmat
banget sih. Devan segitu ganteng nya lo cuekin.” sambung Dina.
“Tapi modus lo ke cowok kaya dia, patut gue
tiru. Gue acungin lima jempol buat lo pokoknya.” Balas Ajeng.
“Ajenggg, gue gak modus kalii.”Dilya
menyangkal perkataan Ajeng sambil teriak.
“Dill, asal lo tau ya, dulu pas kelas
sepuluh Ajeng itu sering caper kalo ada Devan.Tapi Devan nya, ngelirik sedikit
pun enggak.”Ujar Wiwin sambil meledek Ajeng.
“huhu, iyaa sedih banget tau. Kisah cinta
gue serumit itu.”Balas ajeng.
“Rumit??Cinta lo mentok kali, bukan
rumit.Haha” celetuk Dina sambil tertawa terbahak-bahak.
“tuh kan.. ini tuh cuman kalian aja yang
suka Devan. Gue nggak, bagi gue Devan cuman cowo ngeselin.” Ujar Dilya.
“ya udahh.. kalo lo gak mau,ya gapapa, buat
simpenan gue aja. Kalo gue lagi bete sama Rafi, baru gue hubungin dia deh” ujar
Ajeng sambil terkekeh.
“ihhh.. ngarep banget sih lo.” balas Aida.
“biarin lahh” jawab Ajeng.
“ehh ke kantin aja yuk, gue lapar nih,”
ujar Dina.
“Ayoo gue juga pengen makan nih.” Jawab
Ajeng yang memang selalu antusias jika mendengar pembahasan tentang ‘makan’.
…..
“nahhituu,
di belokan depan, sebelah kiri jalan”
Devan
langsung mengarahkan motor nya ke tempat yang di tujukan oleh Dilya. Tempat nya
tidak asing bagi Devan, karena dia selalu melewati jalan ini. Hanya saja dia
baru tahu bahwa ada warung mieayam yang enak di sana.
“Emang
di sini enak?” ujar Devan meyakinkan Dilya.
“Udah
gak usah banyak tanya, buruan..”
“asal
lo tau Van, ini tuh mie ayam favourite gue.”
“emang?”
mereka melanjutkan pembicaraan sambil berjalan masuk.
“Iyaa,
pokokny-”
“emangsiapa
yang nanya..? hahaha” ujar Devan yang sengaja memotong pembicaraan Dilya.
“Tuh
kan, lo ngeselin mulu.”
“Haha..iya
iya maaf,, ya udah pesenin punyaa gue sekalian”ujar Devan.
Tempat ini
memang hanya sebuah warung mie ayam sederhana, ukuran nya pun sangat kecil
paling hanya bisa masuk sekitar delapan orang dewasa.Tapi, karena rasanya yang
enak, juga pelayanan nya yang ramah, Dilya ahirnya menjadikan mie ayam di sini
sebagai makanan favoritnya.
“Bang
mie ayam nya dua yaa, “ ucap Dilya memesan mie ayam tersebut.
“eh,, ada si neng.. ini pacarnya ya neng?” ujar
abang mie ayam sambil mengarahkan matanya pada Devan.
“engga,
bukan Bang masa saya pacaran sama orang ginian sih” ujar Dilya menyangkal
sambil memandang jijik kearah Devan,sedangkan Devan hanya tertawa geli
mendengar perkataan Abang mie ayam tadi.
“emang
gue mau pacaran sama lo? ogahh” tambah Devan menyangkal.
Part 4
“Dilya,
udah berangkat belum. Kalo belum bareng gue berangkatnya.”
“Belum,
boleh… aku tunggu ya”
Tak
menunggu lama dilya kembali mendapat pesan singkat.
“Udah
di depan ni”
Tanpa
membalas pesan tersebut. Dilya langsung berpamitan pergi ke ibunya. Dan langsung
pergi ke luar.
“cepetan,
tar kesiangan lagii”
“Dil,
sebenernya kalo gue bonceng. Ada yang marah nggak?” tanya Radhi setelah dia
naik.
“maksudnya?”
“yaa..
maksud gue lo udah ada yang punya belum?”
“maksud
kamu pacar?”
“Engga lah,
aku gak punya pacar.” Jawaban itu ternyata membuat radhi senyum-senyum sendiri.
Senyumnya juga terlihat di spion motornya yang dilihat dilya “Kenapa? Kok
senyum-senyum sendiri?”
Sambil
cengengesan dia menjawab “gapapa kok, lagi pengen senyum aja”
….
Dilya memang kerap jadi bahan
kejahilan Radhi dan Devan. Hampir setiap hari Dilya di jahili oleh mereka
berdua. Termasuk juga saat kejadian di sembunyikannya pulpen kesayangan Dilya
itu, tapi kejadian itu tidak membuat mereka berhenti. Mereka masih saja tetap
sering menjahilinya.
Kini
Radhi kerap menjadi supir pribadi Dilya, alias dia sering mengantar jemputnya
ke sekolah. rutinitas baru tersebut juga diketahui oleh Aida dan Dina. Mereka pernah memergoki Dilya dan Radhi saat
di perjalanan menuju sekolah. kabar tersebutpun menjadi celotehan hangat di
hari itu.
“Cieee,
senyum terus nihh” ujar Dina. “iya Din, kan abis di anter sama gebetan barunya”
tambah Aida. Sambil matanya mengarah pada Dilya.
“Ooo…Radhi,
yang mereka maksud itu Radhi”Ucapnya dalam hati.
“Oh,
iya. Yang tadi pagi nunggu di depan rumahnya pas kita lewat ya?” Sindir Dina.
“Jangan-jangan
yang juga gue lihat kemaren sore?” tambah Ajeng.
“Ihhh..
kalian tuh kenapa sih, sindir-sindir mulu.“ jawab Dilya sambil cemberut.
“lagian lo sih, bikin gue ngiri ajaa… kemaren Devan,
Sekarang Rad-“ ucap Aida.
“KAN
KITA BERTIGA ITU TEMENANN, AIDAAA..” ujar Dilya.
“kalian
tuh nyinyir banget sih kaya
akun gosip IG” lanjutnya.
“Haha,
lo tuh kaya yang gak tau kita aja sih… kan kita geng nyinyir di kelas
ini,” tambah Ajeng.
“Cukup
kalian aja ya, jangan ajak gue” ucap Dilya.
“Tapi
kan lo juga sering dengerin gosipan kitaa” Jawab Ajeng.
“Mulai
sekarang engga” jawab Dilya merajuk.
“BRAKKKKK”
Jaka menggebrak meja Dilya yang sedang di kerubungi sahabat – sahabat barunya
itu, mereka semua kaget tak terkecuali Ajeng yang sampai terhentak kaget
karenanya.
Dengan spontan sambil tertawa keras
Jaka Mengolok “MUKA
KAGET LO SEMUA BIKIN GUE NGAKAKK, OHAHAHA”
“Iiiiiiiih…
JAKAAAAA. Rese banget sih lo!.” Ucap Ajeng sambil meneriaki dia.
….
Akhir pekan ini Radhi menginap di rumah Devan.
Seperti biasa, karena ayahnya sedang di tugaskan ke luar kota untuk memantau
proyek perusahaannya, ibu dan adiknya pun ikut bersama ayahnya. Radhi hanya
ditemani pembantunya, Bi Ijoh dan Mang Parman, tukang kebunnya di rumah, mereka
adalah sepasang suami istri tua, yang hingga kini belum juga di karuniai
seorang anak. Menjadi pengasuh Radhi sejak kecil membuat Bi ijoh sangat
bahagia.
Radhi si anak sulung itu, sering
merasa boring jika di rumah saja, dia sering menginap di rumah
Devan. Dengan begitu rasa sepinya sedikit terobati, walaupun hanya bermain video
game, main gitar, atau hanya sekadar numpang tidur saja. Rumah Devan
sebenarnya lebih sederhana dibanding rumah megah miliknya, tidak ada pembantu,
tidak ada ‘AC’, tidak ada mesin cuci. Tapi di balik kesederhanaan tersebut,
Radhi menemukan keharmonisan dari sebuah keluarga, perhatian sederhana yang
membuatnya bahagia. Terkadang Radhi cemburu melihat keluarga itu.
Orang
tua Devan sudah menganggap Radhi juga bagian dari keluarga mereka, mereka juga
tahu latar belakang kehidupan Radhi. Namun tidak dengan keluarga Radhi yang
tidak mengenal sama sekali sahabat anaknya tersebut. Hari – harinya selalu
diisi kesibukan – kesibukan yang tak berujung demi harta.
Malam
itu, mereka membuat video untuk di upload di akun instagram milik mereka. Mereka membuat cover sebuah
lagu.Devan yang menyanyikan
lagunya sedangkan Radhi yang memainkan gitar. Devan memiliki suara yang
bagus, walaupun dengan tekhnik vokal yang sederhana, tapi caranya bernyanyi
mampu menyampaikan pesan dari lagu-lagu yang dia nyanyikan.
Devan
sangat suka sekali seni, dari mulai menggambar, melukis, menulis, membuat
puisi, membaca puisi sampai musik, semuanya Dia suka. Dia memiliki
keahlian di bidang bidang tersebut, walaupun tidak ada salah satu hobi yang
lebih mendominasi dalam dirinya, dia mempelajarinya sedikit demi sedikit, tergantung mood-nya saat
itu lebih condong ke arah mana. Dia juga pernah
mengikuti lomba dari bidang - bidang tersebut, dan dia berhasil membuktikan
bahwa dirinya bisa bersaing dengan dunia luar, walaupun hampir semua bakatnya
dia pelajari secara otodidak. Buktinya,
saa masih SMP dia pernah bersaing dalam lomba melukis di tingkat nasional dalam
lomba seni yang secara resmi diselenggarakan oleh dinas pendidikan. Dia juga
pernah menjuarai lomba vokal antar sekolah menengah atas di kota kecil
tempatnya tinggal. Dan beberapa karya kepenulisannya, seperti cerpen dan
puisinya juga sudah dibukukan lewat beberapa event tingkat nasional yang
diadakan secara online oleh beberapa penerbit buku.
Radhi, yang sejak tadi memainkan
gitar kini malah memainkan nya sambil melamun, tapi dari mimik wajahnya dia
tidak sedang memikirkan suatu masalah yang membebaninya. Karena lamunannya juga
sedikit dihiasi senyuman kecil dari bibirnya.
“Ehhh kenapa lo senyum-senyum
sendiri.”
sambil berusaha menutupi
kebenaran tersebut, “Emang gue senyum-senyum?”
“Kenapa sih lo?”
“Gue gapapa”
“Ohh gapapa? Yakin kan gapapa?
Soalnya tingkah lu kaya orang gila, ”
“Sialan lo.”
“Abisnya, lo aneh banget sih.”
“Biarin, yang aneh kan gue bukan
lo”
“Alahh.. Palingan lo abis
nge-gebet cewe baru kan?”
“Tau aja lo, Van.”
Radhi, bisa dikatakan dia adalah
penggila wanita. Dia tak pernah berhenti mengejar anak gadis yang disukainya,
sampai dapat. Dia sangat sulit sekali masuk dalam keadaan menyerah, atau
mengalah. Dalam kondisi apapun tekadnya tetap kuat.
Tapi tidak seperti biasanya, dia
tidak memberitahu pada Devan tentang gadis yang disukainya. karena biasanya,
dia selalu menyombongkan gebetan-gebetannya pada Devan.
tunggu kelanjutannya ya, tolong bantu komen,kritik dan sarannya teman teman:) terimakasih:)
